Oleh: Cahyadi
Takariawan*
“Orang-orang
partai politik itu mudah kecewa. Begitu keinginannya tidak terpenuhi, lalu
keluar dari partainya dan membuat partai baru”, kata seorang teman kuliah di
Lemhannas berapi-api. Aku hanya mengatakan, “Tergantung partainya, dan
tergantung orangnya”. Dia terus saja mengomel tentang jeleknya orang-orang
parpol, dan jawabanku pun tetap sama.
Ini soal perasaan kecewa. Sesungguhnyalah kecewa muncul karena adanya harapan
yang tidak kesampaian. Ada harapan yang ditanam, dan ternyata tidak didapatkan
dalam kenyataan. Inilah yang menyebabkan muncul kekecewaan. Jarak yang
terbentang antara harapan dengan kenyataan itulah ukuran besarnya kekecewaan.
Semakin lebar jarak yang terbentang, semakin besar pula kekecewaan. Oleh karena
itu, kecewa itu ada di mana-mana, di lingkungan apa saja, di dunia mana saja,
selalu ada kecewa.
Mari kita mulai dari yang paling kecil dan sederhana. Kadang kita kecewa dengan
diri kita sendiri. “Mengapa saya tidak begini, mengapa saya tidak begitu”,
adalah contoh kekecewaan yang kita alamatkan kepada keputusan kita sendiri yang
telah terjadi. Kita menyesal di kemudian hari.
Dalam kehidupan rumah tangga yang isinya hanya dua orang saja, yaitu suami dan
isteri, bisa muncul kekecewaan. Suami kecewa kepada isteri, dan isteri kecewa
kepada suami. Hidup berdua saja bisa menimbulkan kecewa, apalagi kehidupan
organisasi atau negara. Jika di dalam rumah tangga mulai ada anak-anak,
kekecewaan bisa bertambah luas. Anak kecewa dengan sikap orang tuanya, dan
orang tua kecewa dengan kelakuan anaknya. Satu anak dengan anak lainnya juga
bisa saling kecewa mengecewakan.
Satu keluarga bisa kecewa atas perbuatan keluarga lainnya dalam sebuah
lingkungan tempat tinggal. Satu desa bisa kecewa dengan desa lainnya dalam satu
kecamatan. Indonesia sangat kecewa dengan sikap Amerika yang arogan, kecewa
dengan sikap Israel yang merampas hak warga sipil Palestina secara semena-mena.
Sebagaimana Amerika kecewa dengan Indonesia karena kurang akomodatif dengan
kebijakan Amerika. Israel kecewa dengan Indonesia karena tidak mau membuka
hubungan diplomatic dengan Israel.
Jamaah sebuah masjid bisa kecewa dengan sikap imam masjid, sebagaimana imam
masjid bisa kecewa dengan kondisi jamaah. Masyarakat gereja bisa kecewa
terhadap pendeta sebagaimana pendeta bisa kecewa terhadap keadaan jemaatnya.
Suporter sepak bola sering kecewa terhadap tim yang dibelanya, sebagaimana
pemain sepak bola sering kecewa kepada sikap para suporter.
TNI bisa kecewa terhadap kebijakan dan sikap Polri sebagaimana Polri bisa
kecewa terhadap TNI. Angkatan Darat bisa kecewa terhadap Angkatan Laut dan
Udara, sebagaimana Angkatan Laut bisa kecewa terhadap Angkatan Darat dan Udara,
atau Angkatan Udara kecewa terhadap Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Di
Angkatan Darat, seorang komandan bisa kecewa terhadap anak buahnya, sebagaimana
anak buah bisa kecewa kepada komandannya.
Dalam
gerakan dakwah, seorang kader bisa kecewa kepada pemimpin, sebagaimana pemimpin
bisa kecewa atas sikap para kader. Seorang kader PKS menyampaikan pesan lewat
SMS kepada saya, yang isinya mengatakan sangat kecewa dengan PKS dan akan
keluar serta bergabung dengan sebuah gerakan dakwah tertentu, sebut saja
gerakan G. Saya menjawab dengan dua kali jawaban. Pertama, bahwa hak masuk dan
keluar dari PKS adalah di tangan anda sendiri, tak ada yang boleh memaksa.
Kedua, kalau anda keluar dari PKS karena kecewa dan akan bergabung dengan
gerakan dakwah G, maka ketahuilah bahwa gerakan G itu juga pernah mengecewakan
anggotanya. Ada banyak orang kecewa dari gerakan G dan berpindah ke gerakan
yang lainnya. Di setiap gerakan dakwah, selalu ada orang yang kecewa dan
meninggalkan gerakan dakwah itu. Selalu.
Sepanjang sejarah kemanusiaan paska masa kenabian, tidak ada satupun organisasi
yang tidak pernah mengecewakan anggotanya. Semua organisasi, semua gerakan,
semua harakah pernah mengecewakan anggotanya. Selalu ada anggota organisasi
atau anggota gerakan yang kecewa dan terluka. Selalu.
Ini bukan soal benar atau salahnya kondisi tersebut. Ini hanya potret
sesungguhnya, begitulah kenyataan yang ada. Cobalah sebut satu saja contoh
organisasi, ormas, gerakan dakwah, instansi, atau apapun. Pasti ada riwayat
pernah ada anggota atau pengurus yang kecewa. Kalau tidak ada yang pernah
dikecewakan, berarti organisasi tersebut belum pernah beraktiviktas nyata.
Bahkan organisasi yang dibuat dari kumpulan orang kecewa, pasti pernah
mengecewakan anggotanya pula. Misalnya sekelompok orang kecewa dengan kebijakan
organisasi A, lalu mereka menyingkir dan berkumpul. Mereka bersepakat, “Kita
berkumpul di sini karena dikecewakan para pemimpin kita. Sekarang kita himpun
potensi kita, dan kita berjanji untuk tidak saling mengcewakan lagi. Jangan ada
yang dikecewakan disini”. Tatkala mereka sudah eksis sebagai organisasi, maka
pasti ada yang kecewa di antara mereka.
Mereka
tidak tahu, bahwa kecewa itu tanda cinta. Kalau tidak cinta, tidak mungkin
kecewa. Karena cinta, maka muncullah berbagai harapan kita. Setelah harapan
tertanam, ternyata apa yang kita lihat dan kita alami tidak seperti yang
diharapkan. Maka muncullah kecewa.
Mengapa beberapa orang parpol yang kecewa lalu membuat parpol baru lagi ?
Karena boleh menurut Undang-undang. Coba kalau Undang-undang membolehkan
membuat TNI baru, atau Polri baru, atau Mahkamah Agung baru, atau DPR baru,
pasti sudah banyak orang membuat dari dulu. Banyak orang kecewa dengan TNI,
banyak orang kecewa dengan Polri, banyak orang kecewa dengan Mahkamah Agung,
banyak orang kecewa dengan DPR, banyak orang kecewa dengan Presiden dan Wakil
Presiden, banyak orang kecewa dengan Menteri, banyak orang kecewa dengan
Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa, Ketua RW atau Ketua RT.
Jadi, kecewa itu ada dimana-mana, karena cinta ada dimana-mana, karena harapan
ada dimana-mana. Namun muncul pertanyaan, pantaskah kita tidak berani memiliki
harapan karena takut dikecewakan ? Jawabannya jelas, tidak pantas !

Karena harapan itulah yang membuat kita bersemangat,
karena harapan itulah yang membuat kita bekerja, karena harapan itulah yang
membuat kita selalu berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik, bahkan
karena harapan itu pula yang membuat kita ada. Jangan takut memiliki harapan
masuk surga. Jangan takut memiliki harapan Indonesia yang makmur dan sejahtera.
Jangan takut memiliki harapan Indonesia menjadi negara paling adil dan paling
maju di seluruh dunia.
So, teruslah memiliki dan memupuk harapan. Teruslah bekerja, teruslah berkarya,
hingga akhir usia. Jangan takut kecewa.
Pancoran Barat 30 Nopember 2010